Rp 189,000.00
Judul : Fathul Majid Penjelasan Lengkap Kitab Tauhid
Penulis : Al Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh
Halaman : 1360 hal
Kertas : HVS 70 gr
Cover : Hard Cover
Ukuran : 24,5 x 16,5 cm
Harga : Rp 189.000,00
MUATAN BUKU
Terbitan kami ini, adalah edisi lengkap Fathul Majid, dan insya Allah,
dapat memenuhi semua kebutuhan seorang muslim dalam dasar-dasar tauhid.
Buku ini memuat:
1. Matan lengkap “Kitabut Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Abid”,
karya Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Islam di
zamannya, dalam teks aslinya yang berbahasa Arab yang dilengkapi
harakat, dan tentu lengkap dengan terjemahnya, sehingga memudahkan bagi
para pencinta ilmu untuk mengkajinya.
2. Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.
3. Diberikan ta’liq dan hasyiyah ( Komentar & Tambahan penjelasan )
oleh syaikh Muhammad Hamid Al Faqi dimana sebagian besar dari ta’liq
beliau tersebut beliau ambil dari Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, karya
penulis Fathul Majid sediri.
4. Ta’liq ini kemudian di Muroja'ah (dikaji ulang) oleh Imam Al
Allamah Ibnu Baaz- rahimahullah-, dan beliau memberikan koreksi dan
komentar yang sangat penting terhadap sejumlah masalah.
5. Hadits-hadits dalam kitab tauhid, ditakhrij dengan berpegang kepada berbagai referensi takhrij.
6. Buku ini dilengkapi dengan risalah takhrij Ahadits muntaqodah fii
kitaabit tauhid, karya syaikh Furaih bin Shalih Al Bahlal yang merupakan
takhrij pembelaan atas sejumlah hadits-hadits dalam kitab tauhid yang
dipermasalahkan oleh sebagian kalangan.
7. Buku ini juga dilengkapi oleh daftar istilah ilmiah lengkap dengan
makna dan definisinya. Sehingga bagi pembaca yang masih kesulitan dalam
memahami istilah-istilah yang digunakan dalam buku ini, pembaca bisa
merujuk makna dan definisinya pada daftar istilah ilmiah ini.
8. Dalam buku ini juga dicantumkan Biografi Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, penulis buku Kitabut Tauhid.
ISI POKOK BUKU
Perjalanan dakwah sang pembaharu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang
menulis matan kitab ini, penting untuk dicermati, karena beliau muncul
dan berdakwah di tengah masyarakat yang sangat akrab dengan pengagungan
terhadap kuburan, bid'ah, dan khurafat. Kondisi masyarakat yang beliau
hadapi mirip dengan kondisi masyarat tanah air di sebagian wilayah.
Karena itu, buku kita ini menjadi sangat penting, karena ditulis oleh
seorang ulama yang menghadapi langsung segala rintangan dan penolakan
dari banyak kalangan, sehingga buku ini benar-benar rujukan primer dan
utama dalam masalah tauhid yang ditulis berdasarkan al-Qur`an dan
as-Sunnah yang didorong oleh kondisi riil yang dihadapi penulisnya.
Sebagaimana yang telah disinggung dalam resensi pertama dari buku ini,
bahwa penegakan tauhid tidak akan berguna tanpa disertai dengan perang
dan penolakan terhadap syirik. Itulah sebabnya para ulama mengatakan
bahwa Agama Islam tegak di atas dua pondasi utama: pertama,
mentauhid-kan Allah, mendakwahkan tauhid dan loyal kepada para
penganutnya, dan kedua, Memerangi Syirik dan memusuhi serta anti
terhadap para penganutnya.
Itulah sebabnya kalimat tauhid yang dititahkan kepada semua para rasul
yang pernah diutus Allah, adalah La Ilaha Illallah (tidak ada tuhan yang
berhak disembah selain Allah). Pernyataan, Tidak ada tuhan yang berhak
disembah adalah penolakan terhadap penuhaan segala apa saja selain
Allah, dan pernyataan kecuali Allah adalah ikrar bahwa hanya Allah yang
berhak dituhankan dan disembah dengan segala bentuk penyembahan dan
penuhanan. Maka tidak ada gunanya seseorang atau suatu kaum mengikrarkan
bahwa tidak ada tuhan selain Allah kalau masih melakukan
praktik-praktik syirik dan membiarkan syirik tanpa pengingkaran bahkan
loyal kepada para palaku syirik.
Inilah yang diungkapkan oleh al-Qur`an secara tegas dan jelas dalam
banyak ayat. Perhatikan Firman Allah Ta'ala dalam Surat an-Nisa`: 36,
{وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا}.
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.
Perintahnya tidak hanya sembahlah Allah tetapi disertai dengan jangan
mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan yang seperti ini banyak sekali
dalam al-Qur`an dan as-Sunnah yang shahih.
Dalam buku kita ini kedua sisi ini dibahas secara mendasar dan
menyeluruh. Dan mudah-mudahan ulasan berikut ini dapat menjelaskan
pentingnya buku ini sehingga Anda terpacu untuk mengkajinya.
Pendengar Radio Rodja yang dirahamati Allah….
Allah Ta'ala berfirman dalam al-Qur`an,
{كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيِّيْنَ
مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ}.
Mulanya manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul
perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka
Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang
perkara yang mereka perselisihkan itu.
Pada mulanya umat manusia itu adalah umat yang satu dalam tauhid, mereka
adalah satu umat yang tegak di atas Syari'at Allah dan kebenaran.
Begitulah tafsir yang ma`tsur dan shahih dari Ibnu Abbas radhiallahu
anhuma. Dan dalam riwayat Shahih disebutkan bahwa itu berlangsung selama
sepuluh generasi. Kemudian menjelang diutusnya Nabi Nuh Alaihissalam
sebagai rasul yang pertama, tercatalah ada lima orang ulama nan shalih
yang menjadi panutan umat kala itu, wafat seorang demi seorang,
sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surat Nuh. Para pengikut mereka
tentu sangat merasa kehilangan dengan kepergian mereka, karena merekalah
yang selama itu menjadi teladan mereka dalam beribadah kepada Allah.
Dalam situasi itulah, muncul setan kepada mereka dan membisikkan agar
mereka membuat semacam arca atau patung untuk lima orang shalih tersebut
agar mengingatkan mereka bagaimana hebatnya keshalihan mereka sehingga
mereka tetap bersemangat mengikuti jejak orang-orang shalih itu
sekalipun mereka telah wafat.
Patung-patung mereka pun kemudian dibuat dan diletakkan pada
majlis-majlis tempat mereka biasa menyampaikan pengajaran. Dan kala itu
patung-patung tersebut, belum disembah. Ketika generasi yang membuat
patung telah meninggal dunia satu demi satu, lalu datanglah generasi
baru yang tidak mengetahui tujuan dibuatnya patung-patung orang-orang
shalih tersebut, datanglah setan dan membisikkan kepada mereka bahwa
generasi terdahulu menyembah mereka, maka patung-patung itupun mulai
disembah. Inilah syirik pertama dalam sejarah yang dilakukan anak cucu
Nabi Adam alaihissalam. Dan pada kaum itulah Nabi Nuh alaihissalam
diutus Allah subhanahu wata'ala.
Maka makna ayat di atas adalah lebih kurang sebagai berikut:
Pada mulanya manusia itu adalah satu di atas tauhid. Mereka semua
bertauhid dan berpegang pada Syariat yang haq. Kemudian muncullah syirik
sehingga terjadilah perselisihan, ada yang tetap teguh bertauhid ada
yang terjerumus dalam syirik. Maka Allah mengutus para nabi sebagai
rasul-rasul Allah alaihimussalam, demi untuk menyampaikan kabar gembira
dengan surga bagi yang teguh bertauhid dan memperingatkan dengan neraka
bagi yang melakukan syirik, dan bersama para rasul tersebut, Allah
menurunkan kitab suci sebagai pemutus perselisihan yang terjadi
tersebut.
Maka syirik yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh alaihissalam sama persis
dengan syirik yang dilakukan kaum Quraisy di mana Nabi kita, Muhammad
Shallallahu alaihi wasallam, diutus oleh Allah kepada mereka.
Orang-orang musyrik itu, semuanya, sama dalam prinsip kesyirikan mereka,
yaitu bahwa mereka tidak berkeyakinan ada tuhan-tuhan lain yang
menciptakan alam ini dan dapat memberikan mereka apa yang mereka minta.
Tetapi mereka hanya menjadikan patung dan berhala tersebut, hanya
sebagai semacam arca yang melambangkan sosok di baliknya, yang menjadi
perantara antara mereka dengan Allah. Inilah hakikat syirik kaum Nabi
Nuh dan ini pula syirik yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah Quraisy.
Dan tipu daya dan fitnah paling besar yang diciptakan setan adalah
pengagungan terhadap kuburan orang-orang shalih sebagai pengganti
pengagungan kepada patung orang shalih. Dan inilah yang sampai sekarang
masih mengotori dunia Islam.
Inilah hakikat perseteruan yang paling pokok antara kebenaran dan
kebatilan hingga Hari Kiamat. Dan Allah telah mengingatkan orang-orang
yang mendustakan seruan para rasul Allah dengan FirmanNya,
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ
وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ
حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ}.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu', maka di
antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada
pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An-Nahl: 36).
Maka kehadiran buku ini, adalah pencerahan hebat yang mudah-mudahan
merupakan titik awal dari penegakan tauhid secara murni di negeri ini.
Tentu buku ini telah lama terbit, dalam bentuk terjemahan yang komplit,
dan hanya Anda bisa dapatkan dalam terbitan PT. SAHIFA HAQ ini.
Pendengar Radio Rodja….
Lebih dari itu, setan akan selalu berusaha dengan berbagai macam cara
untuk menyesatkan manusia, dengan membisikkan berbagai macam perbuatan
yang merusak tauhid kaum muslimin, sebagaimana yang mereka lakukan
terhadap kaum Nabi Nuh tadi. Iblis telah bersumpah kepada Allah untuk
menyesatkan manusia. Allah berfirman mengabadikan ucapan iblis,
{فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ * إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ}.
Demi keperkasaanMu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hamba-Mu yang diberi keikhlasan di antara mereka. (Shad: 82).
Pendengar Radio Rodja Yang Dirahmati Allah….
Salah satu yang disinggung secara jelas di sini adalah bagaimana setan
berusaha mencuri berita wahyu di langit dengan menguping dari
perbincangan di antara para malaikat, lalu satu kebenaran yang mereka
dengar itu mereka bisikkan kepada dukun dan ditambahkannya dengan
seratus kebohongan. Maka kalau ada dukun yang kadang apa yang
dikatakannya terbukti, itu bukan karena dukun itu mengetahui yang ghaib,
tetapi karena bekerjasama dengan setan, dan bersama kebenaran yang
hanya satu itu ada seratus kebohongan yang dapat menyebabkan orang-orang
yang mendatangi mereka terjatuh dalam kemusyrikan dan kekufuran.
Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam memutuskan semua jalan
yang mungkin menghubungkan seorang muslim dengan dukun dengan sabda
beliau,
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم.
Barangsiapa yang datang kepada seorang dukun, lalu membenarkan apa yang
dikatakannya, maka orang tersebut telah kafir terhadap apa yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. (Hadits ini
dishahihkan oleh al-Albani dan beliau takhrij dalam as-Silsilah
ash-Shahihah, no. 3387).
Begitu juga dengan sihir dengan berbagai jenisnya.